Konsep diri yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia
Konsep diri yang dimiliki masyarakat kita masyarakat Indonesia yaitu
kemampuan kita untuk melihat diri sendiri dalam pantulan pandangan orang
lain, bisa kita lihat dari penjelasan “siapa saya” yang akan memberi
gambaran tentang diri saya. Gambaran diri tersebut pada gilirannya akan
membentuk citra diri seseorang. Jadi gambaran diri tersebut merupakan
kesimpulan dari pandangan kita dalam
berbagai peran yang sedang kita pegang, seperti sebagai orangtua, suami atau
istri, karyawan, pelajar, anak dan seterusnya pandangan kita tentang watak
kepribadian yang kita rasakan ada pada diri kita yakni seperti jujur, setia,
gembira, bersahabat, aktif, dan lainnya. Dan pandangan kita tentang sikap yang
ada pada diri kita, kemampuan yang kita miliki, kecakapan yang kita kuasai, dan
berbagai karakteristik lainnya yang kita lihat melekat pada diri kita.
Jadi kognitif dari konsep diri mencakup
segala sesuatu yang kita pikirkan tentang diri kita sebagai pribadi, seperti
“saya pintar”, “saya cantik”, “saya anak baik”, dan lainnya. Sebagai contoh bisa kita lihat pada budaya alam
minangkabau yang konsep diri nya tertuju pada berbuat jasa yaitu pada kata
pusaka orang Minangkabau yang mengatakan bahwa “hiduik bajaso, mati bapusako”.
Jadi orang Minangkabau memberikan arti dan harga yang tinggi terhadap hidup.
Untuk analogi terhadap alam dan juga ada pribahasa yang mengemukakan bahwa ”Gajah
mati meninggakan gadieng, Harimau mati meninggakan baling, Manusia mati
menggakan namo” yang artinya bahwa orang Minangkabau itu hidupnya jangan
seperti hidup hewan yang tidak memikirkan generasi selanjutnya, dengan segala
yang akan ditinggalkan setelah mati. Karena itu orang Minangkabau bekerja keras
untuk dapat meninggalkan, mempusakakan sesuatu bagi anak kemenakan dan
masyarakatnya. Mempusakakan bukan maksudnya hanya dibidang materi saja, tetapi
juga nilai-nilai adatnya. Oleh karena itu semasa hidup bukan hanya kuat mencari
materi tetapi juga kuat menunjuk mengajari anak kemenakan sesuai dengan
norma-norma adat yang berlaku. Ungkapan adat juga mengatakan “Pulai batingkek
naiek maninggakan rueh jo buku, manusia batingkek turun maninggakan namo jo
pusako”. Dengan adanya
kekayaan segala sesuatu dapat dilaksanakan, sehingga tidak mendatangkan rasa
malu bagi dirinya ataupun keluarganya. Banyaknya seremonial adat seperti
perkawinan dan lain-lain membutuhkan biaya. Dari itu usaha yang sungguh-sungguh
dan kerja keras sangat diutamakan Orang Minangkabau. Maka nilai hidup yang baik dan tinggilah yang telah
menjadi pendorong bagi orang Minangkabau untuk selalu berusaha, berprestasi,
dinamis dan kreatif begitupun dengan masyarakat bangsa Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar