Jumat, 04 Juli 2014

Rahmi Iskandar Zulfi, 1IA13, 57413197

Konsep diri yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia


Konsep diri yang dimiliki masyarakat kita masyarakat Indonesia yaitu kemampuan kita untuk melihat diri sendiri dalam pantulan pandangan orang lain, bisa kita lihat dari penjelasan “siapa saya” yang akan memberi gambaran tentang diri saya. Gambaran diri tersebut pada gilirannya akan membentuk citra diri seseorang. Jadi gambaran diri tersebut merupakan kesimpulan dari  pandangan kita dalam berbagai peran yang sedang kita pegang, seperti sebagai orangtua, suami atau istri, karyawan, pelajar, anak dan seterusnya pandangan kita tentang watak kepribadian yang kita rasakan ada pada diri kita yakni seperti jujur, setia, gembira, bersahabat, aktif, dan lainnya. Dan pandangan kita tentang sikap yang ada pada diri kita, kemampuan yang kita miliki, kecakapan yang kita kuasai, dan berbagai karakteristik lainnya yang kita lihat melekat pada diri kita. Jadi  kognitif dari konsep diri mencakup segala sesuatu yang kita pikirkan tentang diri kita sebagai pribadi, seperti “saya pintar”, “saya cantik”, “saya anak baik”, dan lainnya. Sebagai  contoh bisa kita lihat pada budaya alam minangkabau yang konsep diri nya tertuju pada berbuat jasa yaitu pada kata pusaka orang Minangkabau yang mengatakan bahwa “hiduik bajaso, mati bapusako”. Jadi orang Minangkabau memberikan arti dan harga yang tinggi terhadap hidup. Untuk analogi terhadap alam dan juga ada pribahasa yang mengemukakan bahwa ”Gajah mati meninggakan gadieng, Harimau mati meninggakan baling, Manusia mati menggakan namo” yang artinya bahwa orang Minangkabau itu hidupnya jangan seperti hidup hewan yang tidak memikirkan generasi selanjutnya, dengan segala yang akan ditinggalkan setelah mati. Karena itu orang Minangkabau bekerja keras untuk dapat meninggalkan, mempusakakan sesuatu bagi anak kemenakan dan masyarakatnya. Mempusakakan bukan maksudnya hanya dibidang materi saja, tetapi juga nilai-nilai adatnya. Oleh karena itu semasa hidup bukan hanya kuat mencari materi tetapi juga kuat menunjuk mengajari anak kemenakan sesuai dengan norma-norma adat yang berlaku. Ungkapan adat juga mengatakan “Pulai batingkek naiek maninggakan rueh jo buku, manusia batingkek turun maninggakan namo jo pusako”. Dengan adanya kekayaan segala sesuatu dapat dilaksanakan, sehingga tidak mendatangkan rasa malu bagi dirinya ataupun keluarganya. Banyaknya seremonial adat seperti perkawinan dan lain-lain membutuhkan biaya. Dari itu usaha yang sungguh-sungguh dan kerja keras sangat diutamakan Orang Minangkabau. Maka nilai hidup yang baik dan tinggilah yang telah menjadi pendorong bagi orang Minangkabau untuk selalu berusaha, berprestasi, dinamis dan kreatif begitupun dengan masyarakat bangsa Indonesia.